Saturday, January 12, 2013

KEJANG DEMAM (Febrile Convulsion)

DEFINISI
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena kenaikan suhu tubuh (suhu rectal diatas 38° C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium tanpa adanya infeksi system saraf pusat, gangguan elektrolit atau metabolik lain.
Kejang demam biasanya
terjadi pada anak-anak yang berusia antara 6 bulan-5 tahun dan jarang terjadi sebelum usia 6 bulan maupun sesudah 3 tahun.
Kejang disertai demam pada bayi usia < 1 bulan bukan merupakan kejang demam.
Kejang demam maksimal terjadi 16 jam setelah timbul demam.
Kejang yang didahului demam dan dialami anak < 6 bulan atau > 5 tahun pikirkan:
1.      infeksi SSP
2.      epilepsi yang terjadi bersamaan dengan kejang

ETIOLOGI
Penyebab yang pasti dari terjadinya kejang demam tidak diketahui. Disebabkan oleh suhu yang tinggi . Kejang demam cenderung ditemukan dalam satu keluarga, sehingga diduga melibatkan faktor keturunan (faktor genetik). Kadang kejang yang berhubungan dengan demam disebabkan oleh penyakit lain atau timbul pada permulaan penyakit infeksi extracranial 

PATOFISIOLOGI
Belum jelas, kemungkinan dipengaruhi faktor keturunan atau genetik.

 







Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1º C akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15% dan peningkatan kebutuhan oksigen sampai 20%. Jadi pada kenaikan suhu tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi ion Kalium dan Natrium melalui membran sel, dengan akibat lepasnya muatan listrik yang demikian besar sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun ke membran sel sekitar dengan bantuan neurotransmitter dan terjadilah kejang. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah kenaikan suhu sampai 38 C sudah terjadi kejang, namun pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu diatas 40 C.
Kejang demam yang berlangsung singkat umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa. Tetapi kejang demam yang berlangsung lama (>15 menit) biasanya disertai dengan apneu, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang mengakibatkan hipoksemia, hiperkapnea, dan asidosis laktat.
Faktor yang terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga berakibat meningkatnya permeabilitas vascular dan udem otak serta kerusakan sel neuron. Kerusakan anatomi dan fisiologi yang bersifat menetap bisa terjadi di daerah medial lobus temporalis setelah ada serangan kejang yang berlangsung lama. Hal ini diduga kuat sebagai faktor yang bertanggung jawab terhadap terjadinya epilepsi


GEJALA KLINIS
Ada 2 bentuk kejang demam (menurut Livingstone), yaitu:
1.      Kejang demam sederhana (Simple Febrile Seizure), dengan ciri-ciri gejala klinis sebagai berikut :
Ø  Kejang berlangsung singkat, < 15 menit
Ø  Kejang umum tonik dan atau klonik
Ø  Umumnya berhenti sendiri
Ø  tidak  berulang dalam satu periode demam
2.      Kejang demam kompleks (Complex Febrile Seizure), dengan ciri-ciri gejala klinis sebagai berikut :
Ø  Kejang lama > 15 menit
Ø  Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial
Ø  Berulang atau lebih dari 1 kali dalam satu periode demam.

PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS
Anamnesis:
Ø  Adanya kejang, jenis kejang, kesadaran dan lamanya kejang.
Ø  Suhu sebelum atau saat kejang
Ø  Frekuensi dalam 24 jam atau dalam satu periode demam
Ø  Keadaan paska kejang
Ø  Penyebab demam diluar infeksi SSP : ISPA, otitis media
Ø  Singkirkan penyebab kejang yang lain
Ø  biasanya didapatkan riwayat kejang demam pada anggota keluarga yang lainnya (ayah, ibu, atau saudara kandung).

Pemeriksaan fisik:
Ø  kesadaran
Ø  suhu tubuh
Ø  tanda rangsang meningeal
Ø  tanda peningkatan tekanan intrakranial
Ø  tanda infeksi diluar SSP

Pemeriksaan Neurologis : tidak didapatkan kelainan.

Pemeriksaan Laboratorium :
Pemeriksaan rutin tidak dianjurkan, kecuali untuk mengevaluasi sumber infeksi atau mencari penyebab (darah tepi, elektrolit, dan gula darah).

Pemeriksaan Radiologi :
X-ray kepala, CT scan kepala atau MRI tidak dianjurkan pada anak tanpa kelainan neurologis dan hanya dikerjakan atas indikasi, yaitu:
1.      Kelainan neurologis fokal, kemungkinan lesi struktural diotak
2.      Terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial

Pemeriksaan cairan serebrospinal (CSS) :
Tindakan pungsi lumbal untuk pemeriksaan CSS dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. Pada bayi kecil, klinis meningitis tidak jelas, maka tindakan pungsi lumbal dikerjakan dengan ketentuan sebagai berikut :
Ø  Bayi < 12 bulan : diharuskan.
Ø  Bayi antara 12 – 18 bulan : dianjurkan.
Ø  Bayi > 18 bulan : tidak rutin, kecuali bila ada tanda-tanda meningitis.

Pemeriksaan Elektro Ensefalografi (EEG) :
Tidak direkomendasikan, kecuali pada kejang demam yang tidak khas, misalnya kejang demam kompleks pada anak usia > 6 tahun atau kejang demam fokal. 

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan kejang demam meliputi :
Ø  Penanganan pada saat kejang
      Pemberian diazepam rektal, dosis:
  1. 5 mg untuk anak < 3 tahun
            7,5 mg untuk anak > 3 tahun
  1. 5 mg untuk anak BB < 10 kg
            10 mg untuk anak BB > 10 kg
  1. 0,5-0,7 mg/kgbb/kali 



Ø  Turunkan demam :

      Anti Piretika : Paracetamol 10 mg/KgBB/dosis PO atau Ibuprofen 5 – 10         mg/KgBB/dosis PO, keduanya diberikan 3 – 4 kali per hari.
      Kompres : suhu > 39° C dengan air hangat, suhu > 38° C dengan air biasa.
Ø  Pengobatan penyebab : antibiotika diberikan sesuai indikasi dengan penyakit dasarnya.
Ø  Penanganan suportif lainnya meliputi : bebaskan jalan nafas, pemberian
oksigen, menjaga keseimbangan air dan elektrolit, pertahankan
keseimbangan tekanan darah.

Pencegahan Kejang
1.      Pencegahan berkala ( intermiten ) untuk kejang demam sederhana dengan
Diazepam 0,3 mg/KgBB/dosis PO dan anti piretika pada saat anak
menderita penyakit yang disertai demam.
2.      Pencegahan kontinu untuk kejang demam komplikata denganAsam Valproat 15– 40 mg/KgBB/hari PO dibagi dalam 2 – 3 dosis.

PROGNOSIS
Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat prognosa baik dan tidak
menyebabkan kematian. Apabila tidak diterapi dengan baik, kejang demam dapat berkembang menjadi :
Ø  Kejang demam berulang
Ø  Epilepsi
Ø  Kelainan motorik
Ø  Gangguan mental dan belajar

Faktor  resiko tinggi menderita epilepsi, jika:
Ø  kejang demam kompleks
Ø  kelainan neurologis
Ø  riwayat epilepsi dalam keluarga

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kejang demam berulang:
Ø  Usia ketika pertama kali terserang kejang demam (kurang dari 15 bulan)
Ø  Sering mengalami demam
Ø  Riwayat keluarga yang juga menderita kejang demam.
Ø  Jika kejang terjadi segera setelah demam atau jika suhu tubuh relatif rendah, maka besar kemungkinannya akan terjadi kembali kejang demam.





No comments:

Post a Comment